Klasifikasi Tipologi Desa

Klasifikasi Tipologi Desa

Klasifikasi Tipologi Desa

Menurut Nasikun (2007), tipologi (karakteristik) desa dapat diketahui berdasarkan kegiatan pokok masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh karena itu, dikenal adanya desa pertanian, desa nelayan, atau desa industri. Selain itu, tipologi desa juga dapat dilihat dari perkembangan masyarakatnya.

Tipologi desa berdasarkan perkembangan masyarakat dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

  1.    Desa Tradisional

Mayoritas desa tradisional dapat ditemukan di daerah pedalaman. Kehidupan masyarakat di pedalaman, seperti bercocok tanam, cara memasak makanan, dan cara pemeliharaan kesehatan masih sangat bergantung kepada alam.

  1.    Desa Swadaya

Kondisi desa ini relatif statis serta bergantung kepada keterampilan pemimpinnya dalam mengelola desa. Di desa ini kedudukan seseorang dinilai berdasarkan keturunan dan kepemilikan lahan, baik lahan sebagai tempat bermukim maupun lahan persawahan/perkebunan sebagai pusat mata pencaharian.

  1.    Desa Swakarya

Desa ini mulai dipengaruhi oleh adanya unsur dari luar, berupa program inovasi desa, demokrasi, serta mobilitas sosial dalam kehidupan masyarakat. Kedudukan seseorang dalam masyarakat tidak lagi ditentukan berdasarkan keturunan dan kepemilikan lahan, tetapi berdasarkan karya dan keterampilan setiap individu.

  1.    Desa Swasembada

Kehidupan masyarakat di desa ini telah maju, ditandai dengan dikenalnya mekanisme teknologi pertanian modern. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan lebih besar dan aktif sesuai dengan keterampilan dan kapasitas pada bidangnya. Desa ini memiliki kelebihan hasil desa sehingga mampu menjualnya ke luar wilayah.

  1.    Desa Pancasila

Tipe desa ini ideal serta sesuai dengan cita-cita bersama yang berasaskan Pancasila. Masyarakat desa ini menjunjung tinggi tercapainya masyarakat adil dan makmur dalam segala bidang kehidupan.


Baca Artikel Lainnya:

Klasifikasi Kota

Klasifikasi Kota

Klasifikasi Kota

Berdasarkan karakteristik dinamika fungsionalnya, kota dapat diklasifikasikan menjadi beberapa tahapan perkembangan berikut.

  1.    Tahap Awal/Infantile(The Infantile Stage)

Pada tahap ini, pembagian antara zona-zona permukiman dan zona-zona perdagangan belum terlihat jelas. Selain itu, perbedaan antara zona permukiman kelas bawah dan kelas atas juga belum terlihat. Pola bangunan masih terlihat belum teratur.

  1.    Tahap Muda/Juvenile(The Juvenile Stage)

Pada tahap ini, sudah terlihat adanya proses pengelompokan pertokoan di bagian tertentu. Selain itu, juga sudah mulai bermunculan permukiman kelas menengah ke bawah di pinggiran kota. Kawasan pabrik tempat para pekerja mencari nafkah juga sudah mulai bermunculan.

  1.    Tahap Dewasa

Pada tahap ini, sudah terlihat adanya gejala segregasi fungsi (pemisahan fungsi-fungsi). Permukiman kelas atas dan kelas bawah sudah terlihat dengan jelas bedanya.

  1.    Tahap Ketuaan (The Senile Stage)

Pada tahap ini, ditandai dengan adanya pertumbuhan yang terhenti (cessation of growth), kemunduran pada beberapa bidang, dan kesejahteraan ekonomi penduduk mulai menunjukkan gejala-gejala penurunan. Kondisi ini dapat ditemukan di kota-kota industri.

Sementara itu, menurut Lewis Mumford, tingkat perkembangan kota ada 6 tahap, yaitu sebagai berikut.

  1. Tahapeopolis, yaitu tahapan perkembangan desa yang sudah teratur menuju arah terbentuknya kehidupan kota.
  2. Tahappolis, yaitu terbentuknya suatu kota, tetapi sebagian penduduknya masih bekerja di sektor agraris.
  3. Tahap metropolis, yaitukota yang kehidupan penduduknya sudah mengarah ke sektor industri.
  4.  Tahapmegapolis, yaitu terbentuknya wilayah perkotaan sebagai gabungan dari beberapa kota metropolis.
  5. Tahaptryanopolis, yaitu kondisi suatu kota yang banyak dijumpai adanya kekacauan, kemacetan lalu lintas, serta tingkat kriminalitas yang tinggi.
  6. Tahap nekropolis, yaitu kondisi suatu kota yang mulai ditinggalkan oleh para penduduknya karena mereka lebih memilih untuk bertempat tinggal di wilayah lain. Pada tahap ini disebut juga sebagai terbentuknya kota mati.

Baca Artikel Lainnya:

Pengertian Wilayah dan Perwilayahan

Pengertian Wilayah dan Perwilayahan

Pengertian Wilayah dan Perwilayahan

Ppidkabbekasi.Id – Dalam mempelajari ilmu geografi, kita sering mengenal istilah wilayah dan perwilayahan. Apakah pengertian wilayah? Apakah artinya sama dengan perwilayahan? Agar lebih memahaminya, mari, kita simak penjelasan berikut ini.

Berdasarkan ilmu geografi, wilayah memiliki definisi yang berbeda dengan daerah. Secara sederhana, daerah lebih menekankan pada suatu tempat dengan batas administrasi, misalnya kelurahan, kecamatan, kabupaten, dan provinsi. Sementara itu, wilayah lebih menekankan pada suatu tempat yang dapat dibedakan dengan tempat lainnya. Artinya, wilayah tidak selalu sama dengan daerah, meskipun kadang nama wilayah dan daerah adalah sama (misalnya daerah Jawa Tengah dan wilayah Jawa Tengah). Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, wilayah adalah daerah (kekuasaan, pemerintahan, pengawasan, dan lain-lain), serta lingkungan daerah (provinsi, kabupaten, kecamatan). Lingkungan merupakan suatu area dengan lokasi spesifik dan dalam beberapa aspek tertentu berbeda dengan yang lain. Oleh karena itu, dapat didefinisikan bahwa wilayah adalah area yang memiliki karakteristik khas serta dapat dibedakan dengan area yang lainnya.

Perwilayahan adalah suatu proses pembatasan (delineasi) wilayah-wilayah untuk melakukan klasifikasi dengan tujuan tertentu. Tujuan dilakukan pembatasan adalah agar dapat mempermudah dalam mempelajari dan melakukan analisis terhadap wilayah-wilayah. Dalam melakukan pembatasan wilayah tersebut diperlukan adanya kriteria. Kriteria berupa karakteristik yang menjadi dasar pembatasan wilayah. Secara teknik, perwilayahan berkaitan dengan proses penentuan batas wilayah yang bergantung kepada tujuan pengelompokan dan kriteria yang digunakan. Perwilayahan merupakan suatu metode klasifikasi untuk menyederhanakan dunia nyata, kemudian mendeskripsikan hasil klasifikasi tersebut. Contoh perwilayahan yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari adalah pembagian wilayah iklim di dunia berdasarkan garis lintang dan pembagian wilayah waktu di Indonesia.

Perwilayahan merupakan metode yang sangat tepat untuk mendeskripsikan berbagai fenomena, termasuk dalam menggambarkan hubungan antara manusia dan berbagai sumber daya di atas permukaan bumi. Keragaman dan perbedaan karakteristik sumber daya maupun perilaku dan cara-cara manusia dalam memanfaatkan sumber daya dapat disederhanakan dan dijelaskan dengan klasifikasi spasial (perwilayahan). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa perwilayahan merupakan metode untuk menyederhanakan keragaman wilayah.

Perwilayahan dilakukan dalam upaya pembangunan suatu wilayah beserta wilayah-wilayah di sekitarnya. Berkaitan dengan pembangunan tersebut, perwilayahan diarahkan pada aspek pemerataan pembangunan, keserasian dan koordinasi pembangunan, serta arah dan prioritas kegiatan pembangunan. Sebagai contoh, berdasarkan penggunaan lahan dan bentuk kegiatan ekonomi, Kota Surabaya adalah wilayah pertumbuhan, sedangkan kabupaten-kabupaten di sekitarnya adalah wilayah penyangga. Setelah ditentukan batas perwilayahan, maka dapat ditentukan arahan pengembangan Kota Surabaya dan kabupaten-kabupaten di sekitarnya sesuai dengan karakteristik masing-masing.